Pernah pada suatu hari di Rumah Amalia ada seorang perempuan cantik diantar suami, Ia mengeluh, ‘Mas Agus, saya sudah tidak sanggup lagi untuk hidup. Saya lebih baik mati saja. Saya tidak sanggup lagi menjalani kehidupan.’ Ibu ditengah keresahan dan suaminya nampak tidak berdaya dengan keadaan istri seperti itu. Beberapa hari yang lalu istrinya sempat dirawat di rumah sakit karena menegak racun serangga. Alhamdulillah, istrinya masih bisa diselamatkan. Walaupun begitu sang istri masih juga pengen mati. Gairah hidupnya telah menghilang. Sekujur tubuh istrinya terasa sakit semua. Ia merasa hidupnya penuh penderitaan.

Ketika sebelum menikah ayahnya sangat keras. Menuntut agar bisa menyelesaikan kuliah dan tidak boleh bergaul dengan teman laki-laki yang dianggapnya sebagai ‘racun’ Setiap kali menghadapi masalah selalu saja dipendamnya. Tidak berani bercerita terhadap siapapun. pemberontakan dilakukan dengan memaksa pacarnya untuk segera menikah. begitu menikah bukan malah menyelesaikan masalah namun masalahnya makin bertumpuk. karena ternyata harus tinggal bersama mertuanya, semua yang dilakukan serba salah justru dalam kondisi hamil. Kuliahnya terputus. Kehamilannya semakin disesali. Sementara suaminya harus bekerja pulang malam. Bahkan sampai melahirkan harus berjuang sendirian. mengasuh anak dan membesarkan terasa menyiksa.

Tiba-tiba timbuk ingin bekerja, mendapatkan uang sendiri, ingin melanjutkan kuliah, ingin mandiri dengan mengontrak rumah bersama suami dan anaknya sehingga tidak lagi berkumpul dengan mertuanya. Dengan berbagai keinginan dan tidak ada tempat untuk mengadu dan mengeluh ikut merasakan apa yang dideritanya. Dorongan untuk mengakhiri hidup begitu sangat kuat. Sampai tanpa menyadarinya ia sudah mengambil racun serangga dan meminumnya dengan harapan bisa mengakhiri penderitaan. Saat itu yang terpikir itulah cara untuk terbebas dari penderitaan.

Saya kemudian mengajak pasangan suami istri untuk mengambil air wudhu dan Mengokohkan hati agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah adalah satu-satunya solusi dari masalah yang mereka hadapi. Disaat saya menanyakan apakah di rumah sering membaca alquran? Suami istri itu saling menatap dan mengatakan dari sejak pernikahan mereka tidak pernah mengaji. Ibadah sholatpun jarang dilaksanakan. Tenggelam dalam mengejar materi telah membuat lupa terhadap Allah membuat rumah tangga terasa kering. Beberapa istighfar, air matanya mengalir. Dalam berdoa bersama memohon ampun kepada Allah dan agar diberikan kekuatan dalam menjalani hidup. Doa itu telah menenteramkan hati pasangan itu. Isyak tangis terdengar. Hati yang kering seolah tersirami dengan kesejukan embun dipagi hari.

Dibeberapa kali kesempatan pasangan suami istri datang ke Rumah Amalia bersama sang buah hati. Perkembangannya sangat menggembirakan. Istrinya telah memakai hijab dan suaminya telah berpindah pekerjaan yang memudahkan untuk berkumpul bersama keluarga. Beliau bertutur, ‘Alhamdulillah, Mas Agus..kami sekeluarga sekarang lebih banyak berdoa agar menenteramkan hati kami. Menjalankan ibadah sholat lima waktu dengan baik dan kami senantiasa menghiasai rumah dengan membaca al-quran.’ Subhanallah..

‘Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.’ (QS. ar-Raad : 28).

Wassalam,